Minggu, 07 Januari 2018

Menggali Passion (part 1)

Hidup di sebuah komplek TNI itu cukup tidak menyenangkan. Karena seperti kalian akan hanya bisa bercita-cita menjadi tentara atau seseorang yang berseragam lainnya pula. Karena jika tidak menjadi seseorang yang "berseragam" maka akan merasa seperti di kucilkan. Tidak memiliki teman dalam lingkungan komplek ini. Selain itu, akan muncul juga rasa minder karena tidak menjadi seseorang yang berseragam.
     Ayahku seorang tentara angkatan udara tapi aku tidak memiliki cita-cita untuk menjadi seorang tentara, bahkan aku tidak tau apa passionku yang sebenarnya sampai saat ini. Tapi sejak kecil aku menutupi itu semua dengan berkata bahwa aku memiliki cita-cita menjadi tentara. Rata-rata teman-teman di komplekku memiliki cita-cita menjadi tentara. Hal ini yang menjadi permasalahan untuk diriku. Aku sempat merasa minder bahkan sedih karena kebanyakan dari temanku menjadi seorang tentara, dan mereka bisa saja melupakan diriku yang kecil karena temanku akan memiliki teman sesama tentara lainnya.
     Banyak hal yang membuat aku tidak bisa memiliki cita-cita menjadi tentara. Pertama, dari kecil aku di didik dengan zona yang nyaman atau bisa disebut di manja tapi aku juga pernah kena marah orang tuaku karena perbuatanku sendiri. Aku di manja dengan cara orang tuaku membelikannya apa saja yang aku mau tapi tentu saja tidak berlebihan. Aku paling sering kena marah kalau aku tidak tidur di siang hari maka dari itu, aku sering kabur dari jendela kamar dan keluar untuk bermain bersama teman-temanku. Hal ini lah yang membuat aku sering kena marah juga oleh orang tuaku. Tapi sejak aku punya adik, aku cukup tidak di manja lagi. Aku pernah mengunci diriku di dalam kamar selama seharian karena aku meminta mainan tetapi tidak diberikan oleh orang tuaku. Aku malah di biarkan di dalam kamar.
Dan saat aku menaruh sebuah surat melewati pintu kamar. Isi suratnya adalah :
Aku gak mau keluar kalo aku gak di beliin mainan!
Tapi sangat nasib yang kurang beruntung ternyata orang tuaku malah tidak peduli denganku, tidak memperdulikan surat itu. Mereka lebih peduli dengan adikku yang masih bayi pada saat itu. Akhirnya aku keluar dengan sendirinya karena merasa lapar dan dari situ aku sudah tidak terlalu di manja lagi.
     Kebanyakan orang berfikir bahwa jika mereka memiliki orang tua seorang tentara maka akan terdidik dengan keras dan disiplin. Kedua, karena aku merupakan seseorang yang manja sampai-sampai aku tak pernah mengerjakan tugas laki-laki seperti memperbaiki bagian rumah yang rusak atau hal lainnya bahkan aku tidak bisa menggunakan perkakas dengan baik. Aku tidak bisa memakai palu, gergaji, dan lainnya. Bahkan aku pernah di ejek teman SDku saat aku dan teman-temanku membuat gapura untuk kemah waktu itu, aku mencoba untuk membantu teman-temanku dengan menggergaji sebuah bambu tapi ternyata aku tidak bisa.

Aku :
Sini aku bantuin Do

Dodo :
Bisa apa kamu? Ya ini di gergaji aja bambunya

Aku :
Okesiap (sambil kesusahan dan dia menggergaji dengan waktu yang lama)

Dodo :
Bisa gak to kamu? Kalo gak bisa mending pulang terus belajar gergaji dulu. Dasar tenaga cewek! Anak kota!

     Aku saat itu cuma bisa tertawa untuk menutupi rasa malu dengan ejekan temanku karena diriku yang sangat lemah. Padahal aku sangat tidak suka dengan pekerjaan yang melelahkan dan tidak menyenangkan itu. Ketiga, orang tuaku tidak menuntut aku untuk menjadi tentara, hal inilah yang mungkin membuat aku nyaman dengan zonaku yang sekarang. Dan terakhir, dari postur tubuh Gumi sangat tidak cocok untuk menjadi seorang tentara. Kurus, pendek, dan memiliki mata yang tidak sehat. Aku di diagnosa memiliki kelainan saraf pada mata kiriku sedangkan mata kananku jauh diatas normal, jadi berat sebelah gitu. Otakku tidak begitu pintar di banding teman-temanku yang lain, aku tidak begitu terbiasa dengan belajar apalagi tentang matematika. Itu membuatku sangat jatuh dan memiliki nilai jelek di semua bidang dan paling jelek di bidang matematika. Dan hal ini membuat aku harus masuk SMA jurusan IPS. Sekarang teman-temanku sudah mendapatkan apa yang mereka ingin, sedangkan aku? Masih saja memikirkan apa yang harus aku lakukan untuk menemukan passionku.
     Aku yang dari kecil saat di tanya apa cita-citaku oleh guruku pasti menjawab dengan jawaban yang berbeda-beda.

Ibu guru 1 di sekolah dasar:
Elang kalau sudah besar kamu pengen jadi apa?

Aku :
Mau jadi dokter bu, biar bisa nyembuhin orang-orang tapi nggak usah bayar mahal kan kasian udah sakit tapi harus bayar mahal.

Ibu guru 2 di sekolah dasar :
Cita-citamu apa Lang?

Aku :
Mau jadi tentara bu biar kayak Ayah saya

Ibu guru 3 di sekolah dasar :
Sebutkan cita-cita kalian satu persatu mulai dari Elang

Aku :
Mau jadi polisi bu biar pada tertib lalu lintas bu

Ibu guru 1 di sekolah menengah pertama :
Kamu punya cita-cita apa kalo dah besar nanti?

Aku :
Kayaknya aku mau jadi tentara bu kalo nggak ya jadi pengusaha

Ibu guru di sekolah menengah atas :
Cita-citamu apa Lang?

Aku :
Aku mau jadi pengusaha bu

Ibu guru di sekolah menengah atas :
Pengusaha apa?

Aku :
Makanan kalo nggak distro bu, ya apa ajalah pokoknya yang penting pengusaha

Seperti itulah sikapku, tidak pernah konsisten dengan cita-citaku sendiri seakan-akan cita-cita itu hanya sebuah kalimat untuk menjawab pertanyaan dari guruku saat itu.
  Tidak hanya memikirkan apa yang akan aku lakukan untuk kedepannya bahkan aku menjalani beberapa hal untuk menemukan passionku yang sebenarnya. Dari mulai mencoba beberapa olahraga seperti taekwondo, sepak bola dan bola voli. Tapi aku tetap tidak bisa fokus di dalam bidang itu, mungkin Tuhan kurang menyetujuiku dalam hal olahraga.
   Aku mencoba mendaftar STAN, sekolah tinggi akuntansi negara. Ini butuh kerja keras yang ekstra karena aku tidak memiliki otak yang begitu pintar. Dalam tes tahap awal, yaitu tes tulis. Di tahap pertama saja aku sudah mengalami kegagalan. Hal itu membuatku sedikit kecewa karena aku tidak maksimal belajar sebab tidak bisa dalam hal pelajaran "matematika". Dua kali aku mengalami kegagalan tes STAN dan semua pada tahap awal dan lagi-lagi karena matematika. Karena itu aku mengurungkan niat untuk menjadi pegawai negara lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menggali Passion Dengan Laptop Asus X555QG

Hidup di sebuah komplek TNI itu tidak seperti hidup di desa yang anak-anaknya memiliki berbagai macam cita-cita mulai ...